Al-Ustadz Qomar ZA Lc.Zakat Fitri atau yg lazim disebut zakat fitrah sudah jamak diketahui sebagai penutup rangkaian ibadah bulan Ramadhan. Bisa jadi sudah banyak pembahasan seputar hal ini yg tersuguh utk kaum muslimin. Namun tidak ada salahnya jika diulas kembali dgn dilengkapi dalil-dalilnya.Telah menjadi kewajiban atas kaum muslimin utk mengetahui hukum-hukum seputar zakat fitrah. Ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan atas mereka utk menunaikannya usai melakukan kewajiban puasa Ramadhan. Tanpa mempelajari hukum- hukumnya maka pelaksanaan syariat ini tidak akan sempurna. Sebaliknya dgn mempelajarinya maka akan sempurna realisasi dari syariat tersebut.Hikmah Zakat FitrahDari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ia berkata:فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yg berpuasa dari perbuatan yg sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” {Hasan HR. Abu Dawud Kitabul Zakat Bab. Zakatul Fitr: 17 no. 1609 Ibnu Majah: 2/395 K. Zakat Bab Shadaqah Fitri: 21 no: 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud}Mengapa disebut Zakat Fitrah?Sebutan yg populer di kalangan masyarakat kita adl zakat fitrah. Mengapa demikian? Karena maksud dari zakat ini adl zakat jiwa diambil dari kata fitrah yaitu asal-usul penciptaan jiwa sehingga wajib atas tiap jiwa . Semakna dgn itu Ahmad bin Muhammad Al-Fayyumi menjelaskan bahwa ucapan para ulama “wajib fitrah” maksudnya wajib zakat fitrah. Namun yg lbh populer di kalangan para ulama –wallahu a’lam– disebut زَكَاةُ الْفِطْرِ zakat fithri atau صَدَقَةُ الْفِطْرِ shadaqah fithri. Kata Fithri di sini kembali kepada makna berbuka dari puasa Ramadhan krn kewajiban tersebut ada setelah selesai menunaikan puasa bulan Ramadhan.

Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar Al-’Asqalani menerangkan bahwa sebutan yg kedua ini lebih jelas jika merujuk pada sebab musababnya dan pada sebagian penyebutannya dalam sebagian riwayat. Hukum Zakat FitrahPendapat yg terkuat zakat fitrah hukumnya wajib. Ini merupakan pendapat jumhur ulama di antara mereka adl Abul Aliyah Atha’ dan Ibnu Sirin sebagaimana disebutkan Al-Imam Al- Bukhari. Bahkan Ibnul Mundzir telah menukil ijma’ atas wajibnya fitrah walaupun tidak benar jika dikatakan ijma’. Namun ini cukup menunjukkan bahwa mayoritas para ulama berpandangan wajibnya zakat fitrah.Dasar mereka adl hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَاْلأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِDari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menfardhukan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak sahaya orang merdeka laki-laki wanita kecil dan besar dari kaum muslimin. Dan Nabi memerintahkan utk ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat .” {Shahih HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat Bab Fardhu Shadaqatul Fithri 3/367 no. 1503 dan ini lafadznya. Diriwayatkan juga oleh Muslim}Dalam lafadz Al-Bukhari yg lain:أمر النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ“Nabi memerintahkan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum.” {HR. Al-Bukhari no.

1507}Dari dua lafadz hadits tersebut nampak jelas bagi kita bahwa Nabi menfardhukan dan memerintahkan sehingga hukum zakat fitrah adl wajib.Dalam hal ini ada pendapat lain yg menyatakan bahwa hukumnya sunnah muakkadah . Adapula yg berpendapat hukumnya adl hanya sebuah amal kebaikan yg dahulu diwajibkan namun kemudian kewajiban itu dihapus. Pendapat ini lemah krn hadits yg mereka pakai sebagai dasar lemah menurut Ibnu Hajar. Sebabnya dalam sanadnya ada rawi yg tidak dikenal. Demikian pula pendapat yg sebelumnya juga lemah. {Lihat At-Tamhid 14/321; Fathul Bari 3/368 dan Rahmatul Ummah fikhtilafil A`immah hal.

82}Siapa yg Wajib Berzakat Fitrah?Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan dalam hadits sebelumnya bahwa kewajiban tersebut dikenakan atas semua orang besar ataupun kecil laki-laki ataupun perempuan dan orang merdeka maupun budak hamba sahaya. Akan tetapi utk anak kecil diwakili oleh walinya dalam mengeluarkan zakat. Ibnu Hajar mengatakan: “Yang nampak dari hadits itu bahwa kewajiban zakat dikenakan atas anak kecil namun perintah tersebut tertuju kepada walinya.

Dengan demikian kewajiban tersebut ditunaikan dari harta anak kecil tersebut. Jika tidak punya maka menjadi kewajiban yg memberinya nafkah ini merupakan pendapat jumhur ulama.” {Al- Fath 3/369; lihat At-Tamhid 14/326-328 335-336}Nafi’ mengatakan:فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُعْطِي عَنِ الصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ حَتَّى إِنْ كَانَ لِيُعْطِي عَنْ بَنِيَّ“Dahulu Ibnu ‘Umar menunaikan zakat anak kecil dan dewasa sehingga dia dulu benar-benar menunaikan zakat anakku.” {Shahih HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat Bab 77 no. 1511 Al-Fath 3/375}Demikian pula budak hamba sahaya diwakili oleh tuannya. Apakah selain Muslim terkena Kewajiban Zakat?Sebagai contoh seorang anak yg kafir apakah ayahnya berkewajiban mengeluarkan zakatnya? Jawabnya: tidak. Karena Nabi memberikan catatan di akhir hadits bahwa kewajiban itu berlaku bagi kalangan muslimin . Walaupun dalam hal ini ada pula yg berpendapat tetap dikeluarkan zakatnya. Namun pendapat tersebut tidak kuat krn tidak sesuai dgn dzahir hadits Nabi.Apakah Janin Wajib Dizakati?Jawabnya: tidak. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat tersebut kepada sedangkan janin tidak disebut baik dari sisi bahasa maupun adat.

Bahkan Ibnul Mundzir menukilkan ijma’ tentang tidak diwajibkannya zakat fitrah atas janin.

Walaupun sebetulnya ada juga yg berpendapat wajibnya atas janin yaitu sebagian riwayat dari Al-Imam Ahmad dan pendapat Ibnu Hazm dgn catatan –menurutnya– janin sudah berumur 120 hari. Pendapat lain dari Al-Imam Ahmad adl sunnah. Namun dua pendapat terakhir ini lemah krn tidak sesuai dgn hadits di atas.Wajibkah bagi Orang yg Tidak Mampu?Ibnul Qayyim mengatakan bahwa: “Bila kewajiban itu melekat ketika ia mampu melaksanakannya kemudian setelah itu ia tidak mampu maka kewajiban tersebut tidak gugur darinya. Dan tidak menjadi kewajibannya jika ia tidak mampu semenjak kewajiban itu mengenainya.” Adapun kriteria tidak mampu dalam hal ini maka Asy-Syaukani menjelaskan: “Barangsiapa yg tidak mendapatkan sisa dari makanan pokoknya utk malam hari raya dan siangnya maka tidak berkewajiban membayar fitrah. Apabila ia memiliki sisa dari makanan pokok hari itu ia harus mengeluarkannya bila sisa itu mencapai ukurannya .” {Ad-Darari 1/365 Ar- Raudhatun Nadiyyah 1/553 lihat pula Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 9/369}Dalam Bentuk Apa Zakat Fitrah dikeluarkan?Hal ini telah dijelaskan dalam hadits yg lalu. Dan lbh jelas lagi dgn riwayat berikut:عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نُعْطِيْهَا فِي زَمَانِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيْبٍ ..“Dari Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu ia berkata: ‘Kami memberikan zakat fitrah di zaman Nabi sebanyak 1 sha’ dari makanan 1 sha’ kurma 1 sha’ gandum ataupun 1 sha’ kismis {anggur kering}’.” {Shahih HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat no. 1508 dan 1506 dgn Bab Zakat Fitrah 1 sha’ dgn makanan. Diriwayatkan juga oleh Muslim no. 2280}Kata طَعَامٍ maksudnya adl makanan pokok penduduk suatu negeri baik berupa gandum jagung beras atau lainnya. Yang mendukung pendapat ini adl riwayat Abu Sa’id yang lain:قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ وَقَالَ أَبُو سَعِيْدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيْرُ وَالزَّبِيْبُ وَاْلأَقِطُ وَالتَّمْرُ“Ia mengatakan: ‘Kami mengeluarkannya berupa makanan di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Idul Fitri’. Abu Sa’id mengatakan lagi: ‘Dan makanan kami saat itu adl gandum kismis susu kering dan kurma’.” {Shahih HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat Bab Shadaqah Qablal Id Al-Fath 3/375 no. 1510}Di sisi lain zakat fitrah bertujuan utk menyenangkan para fakir dan miskin. Sehingga seandainya diberi sesuatu yg bukan dari makanan pokoknya maka tujuan itu menjadi kurang tepat sasaran.Inilah pendapat yg kuat yg dipilih oleh mayoritas para ulama. Di antaranya Malik {At-Tamhid 4/138} Asy-Syafi’i dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad Ibnu Taimiyyah {Majmu’ Fatawa 25/69} Ibnul Mundzir Ibnul Qayyim {I’lamul Muwaqqi’in 2/21 3/23 Taqrib li Fiqhi Ibnil Qayyim hal. 234} Ibnu Baz dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah {9/365 Fatawa Ramadhan 2/914}Juga ada pendapat lain yaitu zakat fitrah diwujudkan hanya dalam bentuk makanan yg disebutkan dalam hadits Nabi. Ini adl salah satu pendapat Al-Imam Ahmad. Namun pendapat ini lemah. Bolehkah Mengeluarkannya dalam Bentuk Uang?Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini.Pendapat pertama: Tidak boleh mengeluarkan dalam bentuk uang. Ini adl pendapat Malik Asy-Syafi’i Ahmad dan Dawud. Alasannya syariat telah menyebutkan apa yg mesti dikeluarkan sehingga tidak boleh menyelisihinya. Zakat sendiri juga tidak lepas dari nilai ibadah maka yg seperti ini bentuknya harus mengikuti perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain itu jika dgn uang maka akan membuka peluang utk menentukan sendiri harganya. Sehingga menjadi lbh selamat jika menyelaraskan dgn apa yg disebut dalam hadits.An-Nawawi mengatakan: “Ucapan-ucapan Asy-Syafi’i sepakat bahwa tidak boleh mengeluarkan zakat dgn nilainya .” Abu Dawud mengatakan: “Aku mendengar Al-Imam Ahmad ditanya: ‘Bolehkah saya memberi uang dirham -yakni dalam zakat fitrah-?’ Beliau menjawab ‘Saya khawatir tidak sah menyelisihi Sunnah Rasulullah’.”Ibnu Qudamah mengatakan: “Yang tampak dari madzhab Ahmad bahwa tidak boleh mengeluarkan uang pada zakat.” Pendapat ini pula yg dipilih oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan Pendapat kedua: Boleh mengeluarkannya dalam bentuk uang yg senilai dgn apa yg wajib dia keluarkan dari zakatnya dan tidak ada bedanya antara keduanya. Ini adl pendapat Abu Hanifah. {Al-Mughni 4/295 Al-Majmu’ 5/402 Bada`i’ush-Shana`i’ 2/205 Tamamul Minnah hal. 379}Pendapat pertama itulah yg kuat.Atas dasar itu bila seorang muzakki memberi uang pada amil maka amil diperbolehkan menerimanya jika posisinya sebagai wakil dari muzakki. Selanjutnya amil tersebut membelikan beras –misalnya– utk muzakki dan menyalurkannya kepada fuqara dalam bentuk beras bukan uang.Namun sebagian ulama membolehkan mengganti harta zakat dalam bentuk uang dalam kondisi tertentu tidak secara mutlak. Yaitu ketika yg demikian itu lbh bermaslahat bagi orang-orang fakir dan lbh mempermudah bagi orang kaya.Ini merupakan pilihan Ibnu Taimiyyah. Beliau rahimahullahu mengatakan: “Boleh mengeluarkan uang dalam zakat bila ada kebutuhan dan maslahat. Contohnya seseorang menjual hasil kebun atau tanamannya. Jika ia mengeluarkan zakat 1/10 dari uang dirhamnya maka sah. Ia tidak perlu membeli korma atau gandum terlebih dulu. Al-Imam Ahmad telah menyebutkan kebolehannya.” Beliau juga mengatakan dalam Majmu’ Fatawa : “Yang kuat dalam masalah ini bahwa mengeluarkan uang tanpa kebutuhan dan tanpa maslahat yg kuat maka tidak boleh …. Karena jika diperbolehkan mengeluarkan uang secara mutlak maka bisa jadi si pemilik akan mencari jenis-jenis yg jelek. Bisa jadi pula dalam penentuan harga terjadi sesuatu yg merugikan… Adapun mengeluarkan uang krn kebutuhan dan maslahat atau utk keadilan maka tidak mengapa….”Pendapat ini dipilih oleh Asy-Syaikh Al-Albani sebagaimana disebutkan dalam kitab Tamamul Minnah Yang perlu diperhatikan ketika memilih pendapat ini harus sangat diperhatikan sisi maslahat yang disebutkan tadi dan tidak boleh sembarangan dalam menentukan sehingga berakibat menggampangkan masalah ini.Ukuran yg DikeluarkanDari hadits-hadits yg lalu jelas sekali bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan ukuran zakat fitrah adl 1 sha’. Tapi berapa 1 sha’ itu?Satu sha’ sama dgn 4 mud. Sedangkan 1 mud sama dgn 1 cakupan dua telapak tangan yang berukuran sedang.Berapa bila diukur dgn kilogram ? Tentu yg demikian ini tidak bisa tepat dan hanya bisa diukur dgn perkiraan. Oleh karenanya para ulama sekarangpun berbeda pendapat ketika mengukurnya dgn kilogram.Dewan Fatwa Saudi Arabia atau Al-Lajnah Ad-Da`imah yg diketuai Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz wakilnya Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi dan anggotanya Abdullah bin Ghudayyan memperkirakan 3 kg. Adapun Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berpendapat sekitar 2040 kg. Tentang Al-Bur atau Al-HinthahAda perbedaan pendapat tentang ukuran yg dikeluarkan dari jenis hinthah {salah satu jenis gandum}. Sebagian shahabat berpendapat tetap 1 sha’ sementara yg lain berpendapat ½ sha’.Nampaknya pendapat kedua itu yg lbh kuat berdasarkan riwayat:عَنْ هِشَامِ بنِ عُرْوَةَ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ أَسْمَاءَ بنِتَ أَبِى بَكْرٍ أَخْبَرَتْهُ: أَنَّهَا كَانَتْ تُخْرِجُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَهْلِهَا الْحُرِّ مِنْهُمْ وَالْمَمْلُوْكِ مُدَّيْنِ مِنْ حِنْطَةٍ أَوْ صَاعاً مِنْ تَمْرٍ بِالْمُدِّ أوْ بِالصَّاعِ الَّذِي يَـتَبَايَعوْنَ بِهِ“Dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya bahwa Asma’ binti Abu Bakar dahulu di zaman Nabi dia mengeluarkan utk keluarganya yg merdeka atau yg sahaya dua mud hinthah atau satu sha’ kurma dgn ukuran mud atau sha’ yg mereka pakai utk jual beli.” {Shahih HR.

Ath-Thahawi dalam Ma’ani Al-Atsar 2871 Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: “Sanadnya shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim.” Lihat Tamamul Minnah hal. 387}Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan yg dipilih oleh Ibnu Taimiyyah Ibnul Qayyim dan di masa sekarang Al-Albani.Waktu MengeluarkannyaMenurut sebagian ulama bahwa jatuhnya kewajiban fitrah itu dgn selesainya bulan Ramadhan. Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa waktu pengeluaran zakat fitrah itu sebelum shalat sebagaimana dalam hadits yg lalu.وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ“Dan Nabi memerintahkan agar dilaksanakan sebelum orang-orang keluar menuju shalat.”Dengan demikian zakat tersebut harus tersalurkan kepada yg berhak sebelum shalat.

Sehingga maksud dari zakat fitrah tersebut terwujud yaitu utk mencukupi mereka di hari itu.Namun demikian syariat memberikan kelonggaran kepada kita dalam penunaian zakat di mana pelaksanaannya kepada amil zakat dapat dimajukan 2 atau 3 hari sebelum Id berdasarkan riwayat berikut ini:كَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يُعْطِيْهَا الَّذِيْنَ يَقْبَلُوْنَهَا وَكَانُوا يُعْطُوْنَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ“Dulu Abdullah bin Umar memberikan zakat fitrah kepada yg menerimanya1. Dan dahulu mereka menunaikannya 1 atau 2 hari sebelum hari Id.” {Shahih HR. Al-Bukhari Kitabuz Zakat Bab 77 no. 1511 Al-Fath 3/375}Dalam riwayat Malik dari Nafi’:أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةٍ“Bahwasanya Abdullah bin Umar menyerahkan zakat fitrahnya kepada petugas yg zakat dikumpulkan kepadanya 2 atau 3 hari sebelum Idul Fitri.” {Al-Muwaththa` Kitabuz Zakat Bab Waqtu Irsal Zakatil Fithri 1/285. Lihat pula Al-Irwa` no. 846}Sehingga tidak boleh mendahulukan lbh cepat daripada itu walaupun ada juga yg berpendapat itu boleh. Pendapat pertama itulah yg benar krn demikianlah praktek para shahabat.Bolehkan Mengeluarkan Zakat Fitrah Setelah Shalat Id?Hal ini telah dijelaskan oleh hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِDari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yg berpuasa dari perbuatan yg sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa menunaikannya sebelum shalat maka itu zakat yg diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya sekedar sedekah dari sedekah-sedekah yang ada.” {Hasan HR. Abu Dawud Kitabuz Zakat Bab Zakatul Fithr 17 no. 1609 Ibnu Majah 2/395 Kitabuz Zakat Bab Shadaqah Fithri 21 no. 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud}Ibnul Qayyim mengatakan: “Konsekuensi dari dua2 hadits tersebut adl tidak boleh menunda penunaian zakat sampai setelah Shalat Id; dan bahwa kewajiban zakat itu gugur dgn selesainya shalat. Inilah pendapat yg benar krn tiada yg menentang dua hadits ini dan tidak ada pula yg menghapus serta tidak ada ijma’ yg menghalangi utk berpendapat dengan kandungan 2 hadits itu. Dan dahulu guru kami menguatkan pendapat ini serta membelanya.” Atas dasar itu maka jangan sampai zakat fitrah diserahkan ke tangan fakir setelah Shalat Id kecuali bila si fakir mewakilkan kepada yg lain utk menerimanya.Sasaran Zakat FitrahYang kami maksud di sini adl mashraf atau sasaran penyaluran zakat.Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini. Sebagian ulama mengatakan sasaran penyalurannya adl orang fakir miskin secara khusus.Sebagian lagi mengatakan sasaran penyalurannya adl sebagaimana zakat yg lain yaitu 8 golongan sebagaimana tertera dalam surat At-Taubah 60. Ini merupakan pendapat Asy-Syafi’i satu riwayat dari Ahmad dan yg dipilih oleh Ibnu Qudamah .Dari dua pendapat yg ada nampaknya yg kuat adl pendapat yg pertama. Dengan dasar hadits Nabi yg lalu:عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِDari Ibnu Abbas ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yg berpuasa dari perbuatan yg sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin.”Ini merupakan pendapat yg dipilih oleh Ibnu Taimiyyah Ibnul Qayyim Asy-Syaukani dalam bukunya As-Sailul Jarrar3 dan di zaman ini Asy Syaikh Al-Albani dan difatwakan Asy-Syaikh Ibnu Baz Ibnu Utsaimin dan lain-lain.Ibnul Qayyim mengatakan: “Di antara petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam zakat ini dikhususkan bagi orang-orang miskin dan tidak membagikannya kepada 8 golongan secomot- secomot. Beliau tidak pula memerintahkan utk itu serta tidak seorangpun dari kalangan shahabat yg melakukannya. Demikian pula orang-orang yg setelah mereka.” {Zadul Ma’ad 2/21 lihat pula Majmu’ Fatawa 25/75 Tamamul Minnah hal. 387 As-Sailul Jarrar 2/86 Fatawa Ramadhan 2/936}Atas dasar itu tidak diperkenankan menyalurkan zakat fitrah utk pembangunan masjid sekolah atau sejenisnya. Demikian difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah .Definisi FakirPara ulama banyak membicarakan hal ini. Terlebih kata fakir ini sering bersanding dgn kata miskin yg berarti masing-masing punya pengertian tersendiri. Pembahasan masalah ini cukup panjang dan membutuhkan pembahasan khusus. Namun di sini kami akan sebutkan secara ringkas pendapat yg nampaknya lbh kuat:Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam hal perbedaan antara fakir dan miskin sampai 9 pendapat.Di antaranya bahwa fakir lbh membutuhkan daripada miskin. Ini adl pendapat Asy-Syafi’i dan jumhur sebagaimana dalam Fathul Bari. Di antara alasannya adl krn Allah Subhanahu wa Ta’ala lbh dahulu menyebut fakir daripada miskin dalam surat At-Taubah: 60.إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah utk orang-orang fakir orang-orang miskin pengurus- pengurus zakat…”Tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dari yg terpenting. Juga dalam surat Al-Kahfi: 79 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:أَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيْبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا“Adapun bahtera itu adl kepunyaan orang-orang miskin yg bekerja di laut dan aku bertujuan merusak bahtera itu krn di hadapan mereka ada seorang raja yg merampas tiap- tiap bahtera…”Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut mereka miskin padahal mereka memiliki kapal.Jadi baik fakir maupun miskin sama-sama tidak punya kecukupan walaupun fakir lbh kekurangan dari miskin.Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dalam Tafsir-nya : “Fakir adl orang yg tidak punya apa-apa atau punya sedikit kecukupan tapi kurang dari setengahnya.

Sedangkan miskin adl yg mendapatkan setengah kecukupan atau lbh tapi tidak memadai.”Berapakah yg Diberikan kepada Mereka?Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan : “Maka mereka diberi seukuran yg membuat hilangnya kefakiran dan kemiskinan mereka.”Maka diupayakan jangan sampai tiap orang miskin diberi kurang dari ukuran zakat fitrah itu sendiri.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Pendapat yg paling lemah adl pendapat yg mengatakan wajib atas tiap muslim utk membayarkan zakat fitrahnya kepada 12 18 24 32 atau 28 orang atau semacam itu. Karena ini menyelisihi apa yg dilakukan kaum muslimin dahulu di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam para khalifahnya serta seluruh shahabatnya. Tidak seorang muslimpun melakukan yg demikian di masa mereka. Bahkan dahulu tiap muslim membayar fitrahnya sendiri dan fitrah keluarganya kepada satu orang muslim.Seandainya mereka melihat ada yg membagi satu sha’ utk sekian belas jiwa di mana tiap orang diberi satu genggam tentu mereka mengingkari itu dgn sekeras-kerasnya. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menentukan kadar yg diperintahkan yaitu satu sha’ kurma gandum atau dari bur ½ atau 1 sha’ sesuai kadar yg cukup utk satu orang miskin. Dan beliau jadikan ini sebagai makanan mereka di hari raya yg mereka tercukupi dgn itu. Jika satu orang hanya memperoleh satu genggam maka ia tidak mendapatkan manfaat dan tidak selaras dgn tujuannya.” Bagaimana Hukum Mendirikan Semacam Badan Amil Zakat?Telah diajukan sebuah pertanyaan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah tentang sebuah organisasi yang bernama Jum’iyyatul Bir di Jeddah Saudi Arabia yg mengelola anak yatim dan bantuan kepada keluarga yg membutuhkan menerima zakat dan menyalurkannya kepada orang-orang yang membutuhkan.Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab “Organisasi tersebut wajib utk menyalurkan zakat fitrah kepada orang-orang yg berhak sebelum diselenggarakan Shalat Id tidak boleh menundanya dari waktu itu. Karena Nabi memerintahkan utk disampaikan kepada orang-orang fakir sebelum Shalat Id. Organisasi itu kedudukannya sebagai wakil dari muzakki dan organisasi tersebut tidak diperkenankan utk menerima zakat fitrah kecuali seukuran yg ia mampu utk menyalurkannya kepada orang-orang fakir sebelum Shalat Id. Dan tidak boleh pula membayar zakat fitrah dalam bentuk uang krn dalil-dalil syar’i menunjukkan wajibnya mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan juga tidak boleh berpaling dari dalil syar’i kepada pendapat seseorang manusia.Apabila muzakki membayarkan kepada organisasi itu dalam bentuk uang utk dibelikan makanan utk orang-orang fakir maka itu wajib dilaksanakan sebelum Shalat Id dan tidak boleh bagi organisasi itu utk mengeluarkannya dalam bentuk uang.” {Fatawa Al-Lajnah 9/379 ditandatangani Asy-Syaikh Ibnu Baz Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi dan Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan. Lihat pula 9/389}Akan tetapi pada asalnya zakat fitrah langsung diberikan oleh muzakki kepada yg berhak.

Bila ia memberikannya kepada badan amil zakat maka harus diperhatikan minimalnya dua hal:1. Mereka benar-benar orang yg mengetahui hukum sehingga tahu seluk-beluk hukum zakat dan yg berhak menerimanya.2. Mereka adl orang yg amanah benar-benar menyampaikannya kepada yg berhak sesuai dgn aturan syar’i.Hal ini kami tegaskan krn di masa ini banyak orang yg tidak tahu hukum lebih-lebih tidak sedikit yg tidak amanah. Ada yg mengambilnya tanpa hak dan ada yg menyalurkannya tidak tepat sasaran. Justru zakat itu dikembangkan atau utk kesejahteraan organisasi/partainya. Atau terkadang dia menundanya yg berarti menunda pemberian kepada orang yg sangat membutuhkan walaupun terkadang melegitimasi perbuatan mereka dgn alasan-alasan ‘syar’i’ yg dibuat-buat.Bolehkah Zakat Dikembangkan oleh Badan Amil Zakat?Pertanyaan tentang ini telah diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah jawabnya:Tidak boleh bagi wakil dari organisasi tersebut utk mengembangkan harta zakat. Yang wajib dilakukan adl menyalurkannya ke tempat-tempat yg syar’i yg telah disebut dalam nash setelah mengecek penyalurannya kepada orang-orang yang berhak. Karena tujuan zakat adl memenuhi kebutuhan orang-orang fakir dan melunasi hutang orang-orang yg berhutang. Sementara pengembangan harta zakat bisa jadi justru menyebabkan hilangnya maslahat ini atau menundanya dalam waktu yg lama dari orang-orang yang berhak {Fatawa Al-Lajnah 9/454 ditandatangani oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan dan Asy- Syaikh Abdullah bin Qu’ud}Tempat Ditunaikannya Zakat FitrahSebuah pertanyaan ditujukan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah:“Apakah saya boleh menunaikan zakat utk keluarga saya di mana saya puasa Ramadhan di bagian timur sementara keluarga saya di bagian utara?”Jawab: Zakat fitrah itu dikeluarkan di tempat seseorang berada. Namun jika wakil atau walinya mengeluarkannya di daerah tempat yg bersangkutan tidak ada di sana maka diperbolehkan.

{Fatawa Al-Lajnah 9/384 ditandatangani oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan dan Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud. Lihat Fatawa Ramadhan 2/943}Wallahu a’lam bish-shawab.1 Yang dimaksud adl amil zakat bukan fakir miskin. Lihat Fathul Bari dan Al-Irwa` .2 Sebelumnya beliau juga menyebutkan hadits lain yg semakna.3 Lain halnya dalam bukunya Ad-Darari di situ beliau berpendapat seperti Asy-Syafi’i.http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=372
sumber : file chm Darus Salaf 2


niat mengeluarkan zakat fitrah dalil dalil keutamaan zakat fitra